Archive

Archive for the ‘Edisi 5, Desember 2008’ Category

HIDATO

Hidato adalah suatu puzzle yang ditemukan oleh Gyora Benedek, ilmuwan komputer dari Israel. Benedek terinspirasi untuk menciptakan puzzle tersebut ketika pada suatu hari dia sedang berolahraga selam dan melihat sekumpulan ikan yang berenang secara zigzag di antara batu karang. Benedek berimajinasi tentang gerakan-gerakan zigzag kumpulan ikan tersebut. Berdasarkan imajinasi itu dia menciptakan Hidato.

Setiap puzzle Hidato terdiri atas petak-petak yang diisi dengan bilangan-bilangan. Tujuan permainan ini adalah melengkapi petak-petak yang masih kosong dengan bilangan-bilangan yang berurutan sehingga bilangan-bilangan tersebut terhubung secara vertikal, horizontal atau diagonal. Pada puzzle Hidato di bawah ini, 1 dan 2 saling terhubung secara horizontal sedangkan 60 dan 61 saling terhubung secara diagonal. Seperti pada Sudoku, puzzle ini tidak memerlukan tebak-tebakan karena setiap pengisian bilangan pada setiap petak dapat dilakukan dengan logika dan penalaran. Sebagai contoh, terdapat hanya ada satu cara untuk menempatkan 3, 4 dan 5 pada puzzle di bawah sehingga 2 terhubung dengan 6. Anda juga dapat memperhatikan bahwa terdapat hanya satu petak yang mungkin untuk 42. Dapatkah anda melengkapi puzzle Hidato di bawah ini sehingga bilangan-bilangan dari 1 sampai dengan 65 dapat saling terhubung? Bagi anda yang ingin tantangan yang lain dari puzzle Hidato, silakan buka http://www.hidato.com.

Referensi:
DISCOVER: Science, Technology, and the Future magazine, November 2008

Advertisements

Rekor Mengingat

Rekor mengingat  mungkin di tangan Akira Haraguchi. Pada tanggal 3 Oktober 2006, Akira Haraguchi dikhabarkan berhasil mengingat p hingga 100.000 desimal (official record).

Carl Friedrich Gauss

Johann Carl Friedrich Gauss (30 April 177723 Februari 1855) adalah matemati-kawan, astronom, dan fisikawan Jerman legendaris yang memberikan beragam kontribusi; ia dipandang sebagai salah satu matematikawan terbesar sepanjang masa selain Archimedes dan Isaac Newton.

Dilahirkan di Braunschweig, Jerman, saat umurnya belum genap 3 tahun, ia telah mampu mengoreksi kesalahan daftar gaji tukang batu ayahnya. Menurut sebuah cerita, pada umur 10 tahun, ia membuat gurunya terkagum-kagum dengan memberikan rumus untuk menghitung jumlah suatu deret aritmetika berupa penghitungan deret 1+2+3+…+100. Meski cerita ini diterima banyak orang, soal yang diberikan gurunya sebenarnya lebih sulit dari itu.

Gauss ialah ilmuwan dalam berbagai bidang: matematika, fisika, dan astronomi. Bidang analisis dan geometri menyumbang banyak sekali sumbangan-sumbangan pikiran Gauss dalam matematika. Kalkulus (termasuk limit) termasuk salah satu bidang analisis yang juga menarik perhatiannya. Gauss meninggal dunia di Göttingen.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Carl_Friedrich_Gauss)

Belajar Matematika

July 6, 2010 1 comment

Sekarang kita akan menghilangkan segala penghalang proses belajar anak dan bagaimana kita meningkatkan konsep diri positif anak (baca buku MagicMathic’s 1) dengan memanfaatkan kata-kata yang menjadikan anak lebih dimanusiakan dan harga dirinya semakin diangkat.

Langkah awal yang harus kita pahami hilangkan kata JANGAN, TIDAK atau DILARANG. Kalau kita menggunakan kata-kata ini ada satu kesan negatif yang dirasakan anak. Berlatihlah untuk terus menghilangkan ke tiga kata tersebut. Jika saat kita mau mengucapkan suatu kata yang mengandung kata JANGAN, TIDAK atau DILARANG, ucapkan dalam hati “JADI APA YANG SAYA INGINKAN”. Misalkan “Jangan menambahkan puluhan dengan satuan” JADI APA YANG SAYA INGINKAN “Perhatikan kamu harus menambahkan puluhan dengan puluhan dan satuan dengan satuan”. Dengan merubah cara kita berkomunikasi kita telah merubah pola berfikir dari kerangka masalah menjadi berfikir dengan kerangka solusi. Banyak anak atau bahkan guru yang melihat kesulitan meningkatkan motivasi belajar dari sudut pandang kerangka masalah. Untuk dapat berfikir dari kerangka solusi kita harus tahu terlebih dahulu empat elemen penting dalam pembelajaran.

1. Inkompetensi tanpa sadar (tidak menyadari ketidakmampuannya). Egi yang baru berumur 3 tahun dengan cekatan menuntun sepeda kecil dan langsung naik ke atas sadel. Walaupun ia sudah familiar dengan sepeda tersebut saat itu juga ia terjatuh bersama sepedanya. Egi tidak menyadari ketidakmampuannya untuk menaiki sepeda karena memang dia belum terampil dan belum pernah berlatih naik sepeda roda dua.

2. Inkompetensi sadar (menyadari ketidak mampuannya). Setelah terjatuh dari sepeda Egi masih berusaha untuk menaikinya lagi dan mengulang kegagalan yang sama. Baru setelah dua kali gagal dia meninggalkan sepedanya dan berganti mainan yang lain. Egi menyadari ketidak mampuannya naik sepeda.

3. Kompetensi sadar (menyadari kemampuannya). Setelah beranjak besar Egi kembali berlatih naik sepeda dengan dilatih oleh sang mama tercinta. Dalam kurun waktu dua hari ia telah mampu menguasai sepedanya. Namun dia masih agak kesulitan untuk mengayuh pedal dan menjaga keseimbangan. Sekarang Egi menyadari bahwa ia mampu naik sepeda.

4.  Kompetensi tanpa sadar (tidak menyadari kemampuannya) dilakukan Egi saat dia sudah terbiasa menaiki sepedanya tanpa harus memikirkan lagi mengayuh pedal dan menjaga keseimbangan. Semuanya itu ia lakukan dengan otomatis.

Setiap orang yang belajar mengalami empat tahapan di atas, demikian juga anak-anak belajar matematika. Apabila dalam mengerjakan soal matematika anak sudah dengan otomatis menyelesaikannya berarti dia sudah mencapai tingkatan tertinggi proses belajar. Empat tahap belajar akan berulang lagi saat menjumpai soal yang sama sekali baru dijumpai.

Sumber: http://tutorial.magicmatics.com/?p=80

Matematika Bersepeda

Sebuah eksperimen di Inggris tahun 1970-an dengan menggunakan sepeda stationer (tetap di tempat) menunjukkan bahwa ketinggian saddle (tempat duduk) yang paling efisien adalah 109% ukuran kaki sebelah dalam pesepeda. Kamu dapat menempuh jarak lebih jauh bila mengikuti petunjuk di bawah ini:

  1. Berdiri tegak dan mintalah seseorang mengukur jarak dari telapak kaki (tanpa alas kaki) ke tulang selangkang.
  2. Kalikan panjang ini dengan 1,09 untuk mendapatkan panjang R.
  3. Atur ketinggian saddle sepeda sehingga jarak atas saddle ke tanah adalah R

Sumber: Mathematical Ideas, hlm. 172. Miller & Heeren, 1978