Archive

Archive for the ‘Edisi 3, Oktober 2008’ Category

Keunikan Angka 7

Selain Angka 9 yang mempunyai banyak keunikan dan disebut-sebut angka HOKI masih ada angka lain yang mempunyai keunikan tersendiri. Banyak beberapa kata yang selalu menggunakan angka 7 untuk sesuatu yang bersifat banyak, kekaguman, kekuasaan, kesaklaran dan lain lain. Apa sebenarnya makna dan khasiat dari angka tujuh ? saya juga belum bisa menyimpulkan secara pasti makna sesungguhnya dari angka 7, nah berikut contoh penggunaan angka tujuh pada beberapa kata :

Langit ke 7, 7 Bidadari, Kembang 7 Rupa, 7 Keajaiban Dunia, 7 Habbits, Pusing 7 keliling, Seminggu 7 Hari, 7 Turunan, Sheila on 7, Ayat ke 7, TV 7, 7 Bintang, Malaikat ke 7, 7 Mata Air, Sujud 7 Anggota Tubuh, Nujuh “7″  Hari (untuk org meninggal), Nujuh “7″ Bulan (untuk orang hamil), 7 dari 10 wanita memilih kotex ( yg ini iklan), 7 Iblis Neraka, 7 Alam Semesta, 7-Zip (software kompresi), IE-7 (baru aja dirilis), 7 hari 7 malam, Kultum (Kuliah 7 Menit).

Dan masih banyak lagi. Sampai sekarang masih belum bisa menyimpulkannya makna sesunguhnya dari angka 7. Mungkin Anda bisa?

(Sumber: http://ilmuwan.wordpress.com/2008/02/22/keunikan-angka-7/)

Advertisements

Simbol Mata Uang

Bahwa simbol mata uang dollar $ tidak diketahui berasal dari mana, namun kemungkingan berasal dari huruf U dan S (U.S)? Untuk membuat pecahan $1 dan $100 dibutuhkan biaya yang sama yaitu 4,1 sen?

Bahwa sebelum uang kertas digunakan, Amerika menggunakan kulit rusa (buckskins)? Hingga sekarang orang mengenall istilah bucks. Bahwa singkatan lb untuk pound berasal dari kata libra, setelah ditemukannya rasi bintang libra, karena dalam bahasa Latin libra adalah pound dan skala? Singkatan mata uang Pound Sterling juga berasal dari sini : L untuk Libra/lb.

Bahwa mata uang Italia lira juga berasal dari libra? Karena hal ini maka dulu mata uang Inggris disebut pounds/shillings/pence, disingkat L/s/d (libra/solidus/denarius).

Sumber:
http://www.forumsains.com/index.php?cat=688

Manfaat Simbol Matematika

Matematika sering ditakuti bagi para siswa. Barangkali bukan karena matematika itu sendiri, tetapi karena proses pembelajaran yang kurang menyenangkan dan efektif. Walaupun matematika (termasuk yang diajarkan di sekolah) merupakan bahasa simbol, namun manfaat simbol itu benar-benar penting. Bila siswa merasakan kemanfaatan penggunaan simbol matematika, tentu ia akan lebih menghargai (pelajaran) matematika.

David Pimm (Rubenstein & Thompson: 2001) menyatakan beberapa fungsi simbol dalam matematika yaitu:

  1. menggambarkan struktur matematika Dengan memahami simbol-simbol matematika, maka kita menjadi lebih memahami struktur secara lebih luas dan komprehensif. Siswa menyadari bagaimana ide-ide saling berhubungan dan kemudian mengintegrasikannya lebih lanjut.
  2. membantu membuat manipulasi rutin
    Keterampilan matematika dengan menggunakan simbol matematika membantu kita menangani masalah secara cepat dan otomatis tanpa kehilangan makna. Manipulasi rutin dalam matematika harus dibedakan dengan manipulasi mekanistik. Siswa kadang terjebak pada manipulasi mekanistik yaitu tanpa memahami makna operasi yang dilakukan.
  3. memungkinkan kegiatan reflektif dalam matematika
    Hal ini termasuk mewaspadai tentang skema dan konsep yang dimiliki, memahami hubungan dan strukturnya, serta memanipulasinya dalam berbagai cara. Bahasa simbol memiliki karakteristik yang memungkinkan siswa berpikir secara reflektif, dan secara cepat meningkatkan kemampuan berpikirnya.
  4. mewadahi kerapian dan keajegan pikiran Simbol matematika itu sendiri bersifat ajeg yang telah disepakati para matematikawan. Dengan menggunakan simbol-simbol matematika yang sama itu, maka jalan pemikiran kita menjadi lebih rapi dan mudah. Penggunaan simbol ini pula yang membuat komunikasi dapat berlangsung lebih efisien dan efektif.

Terakhir, perlu dipahami bahwa dalam matematika yang disebut “simbol” tidak hanya terbatas pada lambang atau notasi (“1”, ∏, “%”, …) tetapi juga peristi lahan (“persegi”, “tinggi”, “matriks”, “suku”, “prima”, …).  Jadi, istilah “tinggi” dalam matematika berbeda dengan istilah “tinggi” dalam geofisika (atau fisika) kita sehari-hari.

Sumber: Rubenstein & Thompson. 2001. “Learning Mathematical Symbolism: Challenges and Instructional Strategies” dalam Mathematics Teacher Volume 94 Number 4 (April 2001): 265 – 271.

Rumus Untuk Para Pembohong

Jika seorang tersangka ingin diuji apakah ia berbohong atau tidak, polisi biasanya akan merujuk pada sebuah mesin yang mendeteksi apakah ia berbohong atau tidak. Apakah mesin itu punya “indra supranatural”?  Tidak juga, semua berdasarkan landasan ilmiah. Dan yang lebih penting, respon yang diberikan mesin berdasarkan rumus matematika.

Salah satu rumus untuk mendeteksi “kebohongan” dikembangkan oleh David T. Lykken, seorang profesor psikiatri (kejiwaan) di Universitas Minnesota, Amerika Serikat, tahun 1975.

R = respon terhadap pertanyaan-pertanyaan keterlibatan.
L
= reaksi emosional
F
= rasa takut bila dituduh bersalah
C
= tingkat kepercayaan diri (dari yang tidak memiliki rasa percaya diri, –1, hingga yang memiliki rasa percaya diri penuh,+1)
M
= respon terhadap pertanyaan yang mudah.

Seseorang bebas dari dugaan (lolos uji kebohongan) bila R sama atau mendekati 0. Ini terjadi bila L = 0 yaitu ia tidak takut, atau F = 0 yaitu tidak bereaksi berlebihan, atau C = 1 yaitu percaya diri penuh.

Bagaimana memperoleh bilangan-bilangan itu? Ini dilakukan dengan mengukur detak nadi, frekuensi hembusan nafas, dan faktor fisiologis lainnya.

Jadi, walaupun seseorang “mahir” menipu orang lain namun organ tubuhnya tidak bisa menipu. (yaa.. di akhirat nanti giliran mereka yang bersaksi…)

Sumber: Mathematical Ideas, hlm. 249. Miller & Heeren, 1978.