Archive

Archive for the ‘Edisi 12, Januari 2010’ Category

Data Statistik

  1. Lebih banyak mana, guru laki-laki ataukah guru perempuan? Sulit untuk menelusur data guru yang paling up to date, tetapi sebagai gambaran, menurut data terakhir yang terpublikasi (on line) dari NUPTK, ternyata guru (PTK) laki-laki lebih sedikit dibanding perempuan. (1,3 juta laki-laki dan 1,7 juta perempuan).
  2. Kepadatan penduduk di DKI Jakarta memang tidak ada duanya di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2005 saja, kepadatannya 13.344 jiwa/km2, bandingkan dengan urutan kedua, Jabar yang hanya 1.126 jiwa/km2. Tetapi anehnya DKI memiliki angka harapan hidup kedua terbesar di Indonesia setelah DIY, penduduk Sulut menyusul di posisi ketiga. (Data Statistik Ind., BPS-ANU-LDUI)
  3. Walaupun pada setiap orang bervariasi, rata-rata banyak rambut orang adalah 100.000 helai. Banyak rambut tergantung pada jenis kelamin, umur, ras, warna rambut, dan faktor genetik. Kebanyakan orang mengalami kerontokan 50 hingga 100 helai rambut per hari. (Brandreth, Gyles. Your Vital Statistics, hal. 22; Growing New Hair!, hal. 40.)
  4. Sejumlah peneliti dari University of San Diego, California, mengungkapkan, setidaknya manusia dibombardir sekira 34 GB (gigabyte) informasi per hari. Selain itu, manusia juga disuguhkan sekira 100.500 kata per hari atau setara dengan 23 kata per detik. Banyaknya informasi yang masuk, membuat otak manusia menjadi overload. Sementara itu, seorang pskilog, Edward Hallowell mengungkapkan, sepanjang sejarah manusia tak pernah otak dijejali informasi seperti yang ada sekarang. Di Amerika Serikat sendiri, ‘konsumsi’ kata-kata meningkat drastis. Pada tahun 1980 jumlah kata yang diolah otak rata-rata 4500 triliun sedangkan pada 2008, jumlah kata dan informasi mencapai 10.845 triliun. (smd)

Kreativitas dalam Pembelajaran Matematika

Menurut Hartweg Meissner setidaknya dibutuhkan tiga komponen penting agar suatu pembelajaran matematika dapat meningkatkan kreativitas:

  1. Tingkatkan sikap-sikap positif, seperti motivasi, keingintahuan, kepercayaan diri, fleksibilitas, rasa humor, imajinasi, keterbukaan, demokratis, dll.
  2. Berikan masalah-masalah yang menantang. Masalah-masalah yang provokatif, menarik, penting, sesuai dengan pengalaman hidup siswa, terbuka dengan berbagai cara/pendekatan, dan dapat dicoba-coba.
  3. Berikan ruang untuk ide-ide spontan dan pemikiran yang intuitif.  (smd)

Sumber:
Hartweg Meissner. Creativity and Mathematics Education, Jerman: Westf. Wilhelm University.

Matematika dan Arsitektur Kuno

Arsitektur di masa dahulu dianggap sebagai sebuah topik dan satu disiplin matematika yang hingga saat ini masih ada hubungan dekat.

Contoh arsitektur pertama adalah Piramid. Para ahli berbeda pendapat tentang banyaknya geometri dan teori bilangan yang digunakan pada arsitektur ini. Untuk Piramid besar di Giza, Mesir yang dibangun sekitar 2575 SM oleh Raja Khufu, banyak ditulis tentang ukuran-ukuran dari Piramid ini, dan banyak ditemukan bilangan emas (golden number) dan akar kuadratnya.  Terdapat sekurang-kurangnya sembilan teori yang diklaim untuk menerangkan bentuk Piramid.

Tidak ada yang ragu terkait posisi astronomi tertentu di dalam konstruksi Piramid tersebut. Demikian pula, bentuk-bentuk geometri beraturan dikeramatkan pada orang-orang Mesir (saat itu) dan mereka menggunakannya di dalam arsitektur untuk ritual dan bangunan-bangunan resmi.  Sehingga mereka mempunyai ‘orang suci’ yang  disebut Sessat dialah yang menunjukkan (hal-hal) penting relijius dalam menempatkan bangunan.  Bilangan emas (golden number) adalah 1.618033989, dan sebuah sudut yang didasarkan pada bilangan ini akan memiliki ukuran arcsec(1.618033989) = 51° 50′. Sisi Piramid besar (diketahui) tegak pada sudut 51° 52′.

Bilangan-bilangan untuk Pythagoras juga memiliki sifat-sifat geometri. Geometri merupakan studi tentang bentuk-bentuk, dan bentuk-bentuk itu ditentukan oleh bilangan-bilangan.  Tetapi lebih dari itu, matematikawan juga  mengembangkan gagasan estetika berdasarkan proporsi.  Selanjutnya, keteraturan geometri menekankan pada keindahan dan harmoni yang ini diaplikasikan pada arsitektur dengan penggunaan simetri. Kata simetri berasal dari istilah arsitektur Yunani kuno “simmetria” yang menunjukkan pengulangan bentuk-bentuk dan perbandingan-perbandingan dari bagian-bagian yang paling kecil pada sebuah gedung pada seluruh struktur. Ide ini antara lain digunakan di dalam konstruksi Pura Athena Parthenos. Bentuk konstruksi ini juga mengisyaratkan bahwa perbandingan 3 : 4 : 5 dapat digunakan untuk menjamin bahwa sudut-sudut di dalam bangunan sudah ditentukan dengan akurat.  (spn)

Referensi: berbagai sumber.