Archive

Archive for the ‘Edisi 1, Juli 2008’ Category

Habis Dibagi 7

Bagaimana memeriksa bilangan yang habis dibagi 7? Berikut cara yang dapat ditempuh: Contoh bilangan 2415. (yang habis dibagi 7)

  1. 1.5 + 3.1 + 2.4 – 1.2 – 3.0 – 2.0 = 14 habis dibagi 7. Caranya: mulai dari angka paling kanan (satuan) berturut-turut: dikali 1, dikali 3, dikali 2, dikali  –1, dikali –3, dikali –2, bila masih ada angka diulangi perkalian sebelumnya, lalu dijumlahkan. Bila hasilnya habis dibagi 7, bilangan semula juga habis dibagi 7.
  1. 241 – 2.5 = 231
    23 – 2.1 = 21 (habis dibagi 7)
    Caranya:
    bentuk bilangan tanpa angka paling kanan (satuan) lalu dikurangi 2 kali angka satuan. Terhadap bilangan yang baru lakukan proses serupa.

Barangkali cara yang termudah & tercepat adalah cara b.

Advertisements

Tahukah Anda?

  • Tahukah Anda? Bahwa notasi p mula-mula dipilih bukan untuk 3,1415926… namun untuk keliling lingkaran. p adalah huruf pertama kata “keliling” dalam bahasa Yunani kuno (perimeter).
  • Tahukah Anda? Bahwa kata “aljabar” atau “algebra” berasal dari buku al-Khwarizmi yang berjudul “al-Mukhtasyar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabala” sekitar tahun 900-an M. Serapan di Spanyol diplesetkan menjadi “algebrista” yaitu orang yang mampu mengobati cedera tulang. Dari nama al-Khwarizmi pula asal muasal kata “algoritma”.
  • Tahukah Anda? Bahwa ada bilangan yang disebut bilangan Google, yaitu bilangan prima pertama dalam n angka yang terdapat pada desimal bilangan e = 2,718281828459045235360287471352…  (bilangan pokok logaritma natural). Beberapa bilangan Google pertama:  2, 71, 271, 4523, 74713, 904523, 2718281, 72407663, 360287471, 7427466391. Diberi nama Google karena sering muncul pada proses pembayaran sewa search engine google.com.

(Disarikan dari berbagai sumber, sumardyono)

Pembelajaran Matematika Realistik

Pendidikan matematika realistik (realistic mathematics education) merupakan salah satu model pembelajaran matematika yang saat ini sedang banyak dibicarakan. Konsep yang berasal dari Belanda ini telah berkembang ke berbagai negara hingga ke Amerika Serikat (yang lebih dikenal dengan istilah ‘kontekstual’) maupun Indonesia.

Pembelajaran matematika yang realistik memiliki ciri pokok, yaitu adanya “matematisasi horizontal” yaitu proses dari konteks nyata (real) yang dinyatakan secara informal menuju konteks matematika (abstrak) yang dinyatakan secara formal,  dan “matematisasi vertikal” yaitu proses dari konteks matematika ke konteks matematika lain (yang lebih tinggi).  Oleh karena itu, ciri realistik juga adanya penggunaan “konteks nyata’ yaitu konteks yang dapat dipahami siswa (jadi, tidak selalu berarti masalah kehidupan sehari-hari, bisa juga permasalahan utak-atik balok, misalnya). Ciri ini kadang disebut didactical phenomenology.

Umumnya masalah nyata yang dikemukakan dapat ditangani dengan banyak cara sesuai dengan kemampuan dan gaya masing-masing siswa, sehingga ciri realistik selanjutnya adalah adanya strategi atau model penyelesaian siswa atau emergent model. Dan oleh karena tidak setiap siswa dapat memperoleh ide penyelesaian, maka perlu ada bimbingan guru, namun tetap dalam kerangka siswa yang menemukan sendiri. Inilah yang disebut karakteristik guided re-invention. Selanjutnya karena ciri-ciri pokok di atas, maka pada pembelajaran secara realistik akan ada keaktifan siswa dan keaktifan guru, adanya interaksi dan negosiasi.

Bagaimana implementasinya di Indonesia? Indonesia telah memulainya dengan program PMRI (Pendidikan Matematika Realistik). Masalahnya mungkin pada kebiasaan (habit) kita, dimana guru kurang bersabar untuk tidak show of force, kurang menerima perbedaan strategi, siswa kurang gigih berusaha, kekurangan sumber masalah yang berkonteks nyata, atau regulasi pendidikan yang memaksa guru bermain serba cepat & instan.Wah, kalo terus begini, tetapnya saja matematika itu makhluk asing, jauh dari alam kita, dan menjadi momok…  . Semoga tidak.

(sumardyono)

Bola Paling Sempurna

Para ilmuwan CSIRO dari Australia berhasil membuat bola yang nyaris sempurna (paling sempurna yang pernah dibuat manusia) dari bahan silikon dalam sebuah proyek yang disebut Proyek Avogadro. Bola berdiameter 93,75 mm ini dibuat dalam rangka mengganti batangan dari campuran Platina dan Iridium yang tersimpan di Perancis, yang selama ini menjadi acuan standar dunia untuk ukuran massa. Seperti diketahui, standar kg ini sudah berumur lama (dibuat tahun 1880).

Nantinya, ilmuwan akan menghitung berapa banyak atom silikon yang menyusun bola tsb, yang selanjutnya akan digunakan untuk menjadi standar baru ukuran massa (1 kg).

Bola tersebut memiliki tingkat kekasaran (smoothness) dengan variasi hanya 0,3 nanometer ( 1 nano = se per semilyar = 109). Jika bola tsb diberbesar seukuran bumi maka kekasaran “bumi” hanya 12-15 mm. Uggh.., begitu mulus…

sumber: http://technology.newscientist.com /article/dn14229-roundest-objects-in-the-world-created.html. (sumardyono)