Home > Classroom, Edisi 9, Juli 2009 > Yakinkan Saya

Yakinkan Saya

“Yakinkan saya!” bisa dijadikan sebagai mantra di dalam pembelajaran matematika.  Ini merupakan seruan penuh kekuatan dan positif untuk berbuat.  Siapa saja dapat melakukan seruan itu.  Kita bisa meminta para siswa untuk meyakinkan kita.  Di lain waktu mungkin mereka yang meminta kita untuk meyakinkan mereka, atau mungkin di antara mereka saling berusaha meyakinkan satu dengan yang lainnya.  “Yakinkan saya!” adalah sesuatu yang para matematikawan berusaha melakukannya, bahkan sejak sejarah Yunani kuno mengantarkan pembuktian-pembuktian matematis melalui argumen-argumen formal.  “Yakinkan saya!” di dalam pembelajaran matematika dapat berbentuk banyak variasi.  Kita dapat meyakinkan satu dengan lainnya dengan gambar-gambar atau diagram-diagram.  Kita juga dapat meyakinkan satu dengan yang lain melalui cerita selangkah demi selangkah atau penjelasan lisan informal.

Sebuah argumen yang baik dapat meyakinkan setiap orang.  Seperti contoh berikut: “Mana yang lebih besar, 1/6 atau 1/8?” Kita bertanya kepada siswa-siswa kelas empat di awal pelajaran bilangan pecahan.  Banyak diantara mereka telah mengetahui bahwa 1/6 lebih besar.  “Bagaimana kalian tahu?” kita tanya.  Seorang siswa mungkin menjawab: “Karena guru kelas tiga kami mengatakan bahwa ketika penyebutnya lebih besar, maka bilangan itu lebih kecil.”  Kita bisa jawab,“Tetapi itu belum meyakinkan saya!”  Sekarang beban ada pada mereka untuk meyakinkan kita dan meyakinkan sedikit keraguan diantara mereka.  Tak lama kemudian kemungkinan yang terjadi adalah, “Oh, saya tahu bagaimana meyakinkan kamu semua!” salah seorang siswa berseru kepada kelompoknya.  “Kalau ada dua ekor ayam goreng, yang satu untuk lima anak dan yang lainnya untuk sepuluh anak, mana yang akan lebih kamu pilih?” Pendapatnya muncul seketika dan kelompoknya diyakinkan dan demikian pula kita.  Siswa sangat menyukai ‘argumen ayam’.

“Yakinkan saya!”  membantu seluruh siswa merasa memiliki sebuah masalah. Ketika kita menanyakan kepada para siswa sebuah pertanyaan “Bagaimana menyelesaikan 1/3 + 1/2 ?” mereka ingin dapat membenarkan jawabannya.  Para siswa mendiskusikan masalah tersebut di dalam beberapa kelompok kecil.  Beberapa siswa tertentu yang duduk di kursi ketika kita sedang menerangkan akan bergabung dengan sebuah kelompok kecil yang berkerumun, karena mereka tahu bahwa kita akan memanggil salah seorang siswa secara acak untuk meyakinkan kita dengan sebuah jawaban.

Beberapa siswa yang memerlukan lebih banyak waktu dan bantuan untuk menguasai konsep baru akan terberdayakan selama bersama siswa-siswa yang cepat menguasai.  Tidak seperti sebelumnya yang mengatakan “Saya tidak mendapatkannya!” sekarang mereka mengatakan “Saya belum meyakinkan.”  Mereka tidak berhenti, mereka melakukan penilaian.  Mereka sedang menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan demikian pula teman-teman kelasnya, mereka perlu berpikir sedikit lebih keras dan sedikit lebih kreatif untuk mencapai pada sebuah argumen baru yang lebih tepat.  Ada rasa kebanggaan di kedua pihak ketika siswa yang bimbang akhirnya dapat mengatakan, “Oh, iya benar, kamu telah meyakinkan saya!” dan dapat memperbaiki dan meyakinkan kita dengan argumen mereka.

“Yakinkan saya!” menahan dari menghakimi.  “Yakinkan saya!” mengatakan, “Saya akan yakin jika argumenmu cukup kuat.”  Perkataan “Jawaban salah!” pernyataan menghakimi dan mematikan diskusi.  Perkataan “Yakinkan saya!” merangsang penyelidikan, memperjelas pemikiran matematis dan mengembangkan wacana matematis.

Sebagian besar dari inovasi di dalam matematika dan sains dilahirkan dari kebimbangan ketika pemikir yang percaya diri berani menantang kepercayaan-kepercayaan atau metodologi-metodologi yang berlaku.  Albert Einstein ketika ditanya bagaimana dia menemukan teori relativitas, dia menjawab, “Saya menantang aksioma.”

Para siswa tidak serta merta menerima secara pasif dan meyakini segala yang kita berikan, mereka menjadi lapar untuk meyakinkan dan diyakinkan, sebuah transformasi yang baik terjadi.  Siswa-siswa kita menjadi pelajar-pelajar yang aktif.  Mereka tidak hanya mengerjakan pekerjaan siswa.  Di dalam pencarian untuk meyakini dan diyakini, siswa-siswa kita sedang melakukan pekerjaan seorang matematikawan. Semoga kita dapat teryakinkan.

Sumber:
http://www.education-world.com/a_curr/mathchat/mathchat017.shtml

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: