Home > Classroom, Edisi 11, Januari 2010 > Metapora Scaffolding pada Teori Pembelajaran (Matematika)

Metapora Scaffolding pada Teori Pembelajaran (Matematika)

Model pembelajaran matematika dapat dilihat pada hubungan interaksi antara guru dan siswa. Jika guru lebih banyak berperan maka pembelajaran lebih pada metode ceramah atau ekspositari, sedang bila siswa lebih dominan maka lebih kearah pembelajaran inquiri. Model pembelajaran satu arah ini merupakan kasus ekstrim yang tentu tidak cocok untuk kebanyakan siswa. Maka diperlukan batasan seberapa jauh “dukungan guru” dan seberapa jauh “kebebasan siswa” dalam proses pembelajaran. Dalam kaitan ini muncul istilah scaffolding yang notabene merupakan istilah pada ilmu teknik sipil berupa bangunan kerangka sementara (biasanya terbuat dari bambu, kayu, atau batang besi) yang memudahkan pekerja membangun gedung. Metapora ini harus secara jelas dipahami agar kebermaknaan pembelajaran dapat tercapai.

Istilah ini digunakan pertama kali oleh Wood, dkk tahun 1976, dengan pengertian “dukungan guru kepada siswa untuk membantunya menyelesaikan proses belajar yang tidak dapat diselesaikannya sendiri”. Pengertian dari Wood ini sejalan dengan pengertian ZPD (Zone of Proximal Development) dari Vyotsky. Siswa yang banyak tergantung pada dukungan guru untuk mendapatkan pemahaman berada di luar daerah ZPD-nya, sedang siswa yang bebas atau tidak tergantung dari dukungan guru telah berada dalam daerah ZPD-nya.

Nah, yang harus diingat bahwa kapan kita tahu bahwa siswa tidak dapat menemukan sendiri?  Tentu bukan pada seluruh ranah materi, karena tentu saja siswa belajar apa yang ia belum tahu.  Persoalannya menjadi wilayah praktis di mana guru harus meampu membaca pikiran siswa (dari prilakunya) apakah siswa mentok atau masih memiliki arah yang benar dalam proses belajarnya. Dalam hal ini komponen “karakteristik siswa” dan “waktu berpikir/bekerja” perlu diperhatikan. Siswa yang tergolong pandai tentu diberi tenggang waktu yang tidak lebih lama dari siswa yang performansinya lebih rendah.

Hal lainnya adalah arti “dukungan”. Ini tidak mengisyaratkan bahwa guru memberi tahu “jawaban” tetapi lebih pada memberi “hint” atau “pilihan strategi” agar siswa sendiri yang memilih dan mencobanya. (smd)

Bacaan:
Anghileri, Scaffolding practices that enhance mathematics learning
Rachel R. Van Der Stuyf , Scaffolding as a Teaching Strategy
Siemon & Vergona, Identifying and describing teacher`s scaffolding practices in mathematics

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: