Home > Edisi 10, Desember 2009, Opinion > Memaknai Kembali Arti “Kontekstual”

Memaknai Kembali Arti “Kontekstual”

Misinteerpretasi atau miskonsepsi mudah terjadi dalam dunia pendidikan, karena demikian luas ruang lingkup dan demikian kompleks hubungan antar faktor baik internal maupun eksternal.

Wacana “kontekstual” dalam dunia pendidikan Indonesia mulai muncul dekade 1990-an. Konon, istilah kontekstual mulai didengungkan dari kurikulum matematika dengan istilah “contextual learning”, dan lebih jauh lagui terinspirasi dari kelahiran “realistics mathematics” di Belanda (1975).

Mengikuti jalan pikiran dari buku-buku realistik dan kontekstual, dan dibandingkan dengan kenyataan di lapangan, ada sesuatu misleading dari implementasi pembelajaran kontekstual.

Sementara ini, ada (mungkin banyak) guru yang berpandangan bahwa pembelajaran kontekstual harus ada soal ceritanya. Beberapa guru yang lain, menganggap pembelajaran kontekstual bila dimulai dengan soal cerita. Ada pula yang berpandangan bahwa pembelajaran kontekstual harus menggunakan soal cerita sebagai konteks untuk mempelajari matematika.

Menurut hemat kami, semua pandangan di atas tidak benar atau kurang tepat.

Kontekstualitas pembelajaran sesungguhnya terletak pada meaningfull learning. Jadi, bila suatu pembelajaran telah meaningfull bagi siswa, maka otomatis siswa memiliki konteks dalam pikirannya mengenai konsep-konsep matematika (apa pun bentuk konteksnya). Jadi, konteks dalam hal ini adalah makna, yang dapat berwujud real-life maupun berwujud pikiran-pikiran logis (matematis) dalam kepala siswa. Menurut istilah RME, baik dalam ranah horizontal maupun vertikal.

Jadi, konteks tidak harus soal cerita. Persamaan linear dapat menjadi konteks untuk pertidaksamaan linear. Dalam jenjang SD, memang diakui bahwa persoalan real-life (kehidupan nyata) yang paling banyak memungkinkan sebagai konteks pembelajaran. Namun, betapa menjadi semakin sulit pembelajaran “metode pengintegralan” di SMA, jika menggunakan latar masalah kehidupan nyata.

Pemaksaan makna real-life ini telah menyebabkan pergeseran makna kontekstual ke arah makna koneksitas. Prinsip koneksitas menegaskan bahwa konsep-konsep matematika dapat berhubungan erat dengan konsep di luar matematika (ekonomi, biologi, fifika, dll). Jika ini jadinya, maka pembelajaran kontekstual kita lebih pada pembelajaran koneksitas, yang malah dikhawatirkan kembali pada sifat-sifat teknis semata (mekanis); menghubung-hubungkan simbol dan peristiwa nyata tanpa memahami konsep matematika di balik simbol tersebut. Semoga saja tidak ….  (smd)

(sumardyono, M.Pd.)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: