Home > Edisi 3, Oktober 2008, Math Life > Rumus Untuk Para Pembohong

Rumus Untuk Para Pembohong

Jika seorang tersangka ingin diuji apakah ia berbohong atau tidak, polisi biasanya akan merujuk pada sebuah mesin yang mendeteksi apakah ia berbohong atau tidak. Apakah mesin itu punya “indra supranatural”?  Tidak juga, semua berdasarkan landasan ilmiah. Dan yang lebih penting, respon yang diberikan mesin berdasarkan rumus matematika.

Salah satu rumus untuk mendeteksi “kebohongan” dikembangkan oleh David T. Lykken, seorang profesor psikiatri (kejiwaan) di Universitas Minnesota, Amerika Serikat, tahun 1975.

R = respon terhadap pertanyaan-pertanyaan keterlibatan.
L
= reaksi emosional
F
= rasa takut bila dituduh bersalah
C
= tingkat kepercayaan diri (dari yang tidak memiliki rasa percaya diri, –1, hingga yang memiliki rasa percaya diri penuh,+1)
M
= respon terhadap pertanyaan yang mudah.

Seseorang bebas dari dugaan (lolos uji kebohongan) bila R sama atau mendekati 0. Ini terjadi bila L = 0 yaitu ia tidak takut, atau F = 0 yaitu tidak bereaksi berlebihan, atau C = 1 yaitu percaya diri penuh.

Bagaimana memperoleh bilangan-bilangan itu? Ini dilakukan dengan mengukur detak nadi, frekuensi hembusan nafas, dan faktor fisiologis lainnya.

Jadi, walaupun seseorang “mahir” menipu orang lain namun organ tubuhnya tidak bisa menipu. (yaa.. di akhirat nanti giliran mereka yang bersaksi…)

Sumber: Mathematical Ideas, hlm. 249. Miller & Heeren, 1978.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: